Inspirasi dan Motivasi Sukses Memiliki Penghasilan Pasif dengan Kerja Online

Mau Penghasilan Tambahan?

Showing posts with label bisnis. Show all posts
Showing posts with label bisnis. Show all posts

Kenapa KTP dan Rekening Bank Penting dalam Bisnis

Syarat bikin SIM, harus pakai KTP? Wajib.
Syarat bikin Paspor, harus pakai KTP? Pastinya.
Syarat bikin Rekening Bank, harus pakai KTP? Tentu.
Syarat ngajuin kredit, harus pakai KTP? Sepertinya begitu tuh.
Kenapa KTP dan Rekening Bank Penting dalam Bisnis

Kenapa sih KTP itu penting banget dan sering dijadiin syarat pendaftaran? 
Kita perlu memahami dulu apakah pengertian KTP itu.

KTP (Kartu Tanda Penduduk) adalah identitas resmi yang berfungsi sebagai bukti diri bahwa kita adalah penduduk Indonesia yang diterbitkan oleh Instansi Pemerintah yang berlaku di seluruh wilayah Indonesia.

Nah kalau dari pengertian KTP itu sendiri, sudah terlihat jelas bahwa KTP merupakan salah satu Dokumen Penting dan Resmi yang dikeluarkan oleh Pemerintah. Karena dokumen penting dan resmi yang merupakan identitas diri kita, maka KTP menduduki peringkat teratas untuk dokumen yang bisa dipercaya oleh pihak lain selain diri kita.
 
Sebagai contohnya, saya akan ambil pengalaman saya sebelumnya. Saat kita mau masuk ke area gedung perkantoran elit atau gedung instansi pemerintah yang bukan termasuk area pelayanan publik, pasti kita diminta untuk meninggalkan KTP dan menulis identitas diri kita di buku tamu. Dan sebagai bukti tukar KTP, kita akan diberikan kartu pengunjung (Visitor) yang sekaligus berfungsi sebagai identitas kita selama di tempat tersebut.

Atau jika kita sedang berkunjung ke suatu pabrik industri manufaktur yang bonafit, atau berkunjung ke rumah atau apartemen salah satu rekan atau saudara kita yang terletak di kawasan pemukiman elit yang memiliki sistem cluster atau satu gerbang untuk keluar masuk dan memiliki penjagaan oleh petugas keamanan, pastinya pada saat mau masuk, kita akan diminta meninggalkan KTP yang ditukar dengan kartu pengunjung (visitor).

Nah kalau dari contoh diatas, jelas sekali bahwa fungsi KTP ngga main-main lho. Makanya setiap pendaftaran apapun baik itu untuk pendaftaran suatu keanggotaan maupun pendaftaran untuk tujuan pembuatan suatu dokumen resmi, baik itu yang dikeluarkan oleh Instansi Pemerintah maupun Swasta, selalu membutuhkan KTP sebagai salah satu persyaratannya.

Di dalam KTP, terdapat nomor KTP yang unik bagi masing-masing orang yang tidak sama satu dengan yang lain. Ini yang membedakan identitas kita dengan orang lain. Lalu ada nama dan alamat tempat tinggal kita, serta tanggal lahir dan masa berlaku KTP tersebut.

Dalam beberapa hal, tanda tangan dan foto kita yang terdapat di KTP juga memegang peranan penting, jika suatu saat dibutuhkan oleh pihak lain untuk menilai kecocokan data diri kita.


Tapi saya takut kalau sembarangan ngasih KTP, takut digunakan untuk yang ngga-ngga. 
Jika ada diantara kita yang memiliki ketakutan model seperti ini, cara mengatasinya mudah sekali lho.

Kalau mau berkunjung ke apartemen teman, harus ninggalin KTP tapi kita ngga mau, ya udah minta aja teman kita yang berkunjung ke rumah kita. Teman kita ngga mau, ya udah chatting aja pake bbm atau WA, atau kalau kangen mau liat wajahnya, pakai aja Skype atau aplikasi video call lainnya.

Ngga punya pulsa untuk chatting atau video call, ya udah ngga usah komunikasi sama teman kita, cari aja teman yang lain yang deketan atau tetanggaan dengan rumah kita. Gitu aja kok repot ya?

Kalau ada panggilan wawancara atau interview di sebuah gedung perkantoran elit, dan harus ninggalin KTP tapi kita ngga mau, ya udah minta aja interviewnya dipindah ke restoran, café, atau kedai kopi yang tidak perlu meninggalkan KTP.

Atau bisa juga minta interviewnya menggunakan video call. Kalau perusahaan yang mengundang kita untuk interview ngga bersedia, ya udah batalin aja interviewnya, kan perusahaan masih punya banyak kandidat lainnya selain kita. Gitu aja kok repot ya?

Kalau punya impian memiliki bisnis yang bisa diwariskan ke anak cucu, yang bisa dikerjakan kapan saja dan dimana saja, dan bisa jadi percepatan rezeki bagi kita, pas mau daftar harus kasih copy KTP atau scan atau foto KTP, tapi kita ngga mau, ya udah ngga usah daftar. Cari aja bisnis lain yang ngga pakai pendaftaran yang memerlukan data KTP kita, misal buka toko atau ruko untuk jualan.


Yaaa Mbak, emang gampang punya toko atau ruko. Belum lagi biaya barang-barang untuk ngisi tokonya. Modalnya gede pastinya. Lagian kalau mau sewa atau kredit, pas pengajuannya ketemu lagi dengan persyaratan harus pakai KTP. 
Ya udah kalau ngga mau ketemu syarat yang pakai KTP lagi, jualan aja di trotoar atau dipinggir jalan, seperti kaki lima gitu. Modal tikar doang, abis itu gelar deh barang dagangannya.


Waaah.. Resikonya gede itu. Bisa diminta uang keamanan sama preman setempat, pungli ini pungli itu, belum lagi kalau ada razia dari Kamtib. Bawaannya deg-degan melulu. 
Ya udah. Kalau gitu ngga usah bisnis. Diem aja di rumah. Gitu aja kok repot ya?


Yaaa.. Solusinya ngga beres nih dari tadi. Masa mulai dari disuruh cari teman baru yang tetanggan aja, ngebatalin interview yang jadi kesempatan dapat kerja, sampai disuruh diem aja dirumah dan ngga perlu punya bisnis. Kalau kasih solusi yang bener dong.
 
:D :D :D
Justru ini bagian yang paling lucu. Oke saya tanya dulu ya…

Yang punya ketakutan KTP dipakai untuk yang ngga-ngga siapa?
Yang ngga mau nitip KTP di security atau resepsionis apartemen atau gedung perkantoran siapa?
Yang pendaftaran jadi member bisnis, atau mau pengajuan kredit atau sewa tapi ngga mau kasih KTP siapa?
 
Jadi yang ngga beres dan ngga bener dari tadi tuh sebenarnya siapa ya?
 

Kan saya takut beneran, takut KTP saya dipergunakan sembarangan gitu lho. Nanti saya jadi korban penipuan lagi. 
Walaaaah.. Kalau alasan takutnya dari tadi karena takut disalahgunakan atau dipakai sembarangan, apakah kita berpikir juga bahwa pihak pengelola dan bagian keamanan apartemen atau gedung perkantoran tersebut juga ngga mau yang masuk ke gedung mereka itu adalah orang sembarangan, orang yang tidak berkepentingan, atau orang yang berniat tidak baik?

Kalau memang kita takut KTP atau data diri kita di dalam KTP disalahgunakan, maka hal paling utama dan pertama yang perlu dilakukan adalah mencari tahu atau mengevaluasi sendiri apakah apartemen, gedung perkantoran, instansi pemerintah atau swasta tersebut dapat dipercaya atau tidak.

Sama halnya jika mau daftar bisnis. Saya ambil contoh saja saat saya memutuskan untuk bergabung di bisnis saya, Oriflame. Yang saya lakukan adalah saya cek dan selidiki apakah bisnisnya beneran dan bukan penipuan. 

Cara ngecek dan menyelidikinya juga harus benar ya, jangan asal-asalan. Harus ada bukti kuat yang mendukung hasil dari pengecekan dan penyeidikan tersebut, biar ngga dibilang mengada-ngada atau hoax.

Nanti di artikel selanjutnya saya akan share langkah-langkah pengecekan dan penyelidikan yang saya gunakan dulu saat memutuskan bahwa bisnis Oriflame adalah bisnis beneran dan bukan penipuan.

 
Lalu untuk apa diminta nomor rekening bank? Emangnya KTP aja ngga cukup?
Tergantung kebutuhannya.
Saya akan ambil contoh bisnis saya lagi ya. Nomor rekening ini diperlukan untuk menerima transferan penghasilan atau bonus, yang kita dapatkan sesuai hasil kerja kita, yang berupa uang dari Oriflame.

Dengan ratusan ribu member Oriflame, masa masih juga bonus dibagiin pakai amplop kayak jaman dulu. Apalagi hari gini gitu lho, masa kita bawa bonus 20 juta dalam bentuk tunai. Yang ada kita ngeri kalau pas pulang bawa uang segitu banyak.

Kecuali KTP kita bisa berfungsi layaknya nomor rekening bank untuk menerima transferan, maka selama itu juga nomor rekening bank kita tetap diperlukan.

Kalau masih ngga percaya, coba tanya aja sama karyawan kantoran, bagaimana kantor mereka membayarkan gaji mereka setiap bulannya. Atau tanya sama pengusaha yang bisnisnya sudah besar dan memiliki pelanggan di luar negeri, bagaimana metode pelanggan mereka membayar pesanannya.

Atau yang paling sederhana, tanya aja deh sama yang punya online shop, bagaimana transaksi jual beli, khususnya metode pembayaran pelanggan mereka.

Demikian penjelasan saya Kenapa KTP dan Nomor Rekening Bank Penting dalam Bisnis. Jadi kalau ada yang masih punya ketakutan dimintain copy atau scan atau foto KTP dan nomor rekeningnya saat mau berbisnis, segeralah bertobat. :D

Senior Gold Director Oriflame Indonesia
Whatsapp 08129897914
SMS | Telp 08129897914
Linkedin : http://id.linkedin.com/in/dettyindriana

Mimpi TKI Taiwan | Mencari Solusi di Negara Sendiri

Apa yang ada di pikiran kita saat mendengar kata TKI (Tenaga Kerja Indonesia)?

Saya sempat survey dengan menanyakan pertanyaan ini kepada beberapa orang, dan jawabannya sangat bervariasi seperti:

TKI itu pekerja kasar, kuli bangunan, buruh migran.
TKI itu pembokat, pembantu rumah tangga, babu, Inem.
TKI itu pahlawan devisa, pejuang keluarga, tulang punggung.
TKI itu nasibnya ngenes banget, pahlawan devisa yang minim perlindungan negara, kasian banget.

Mimpi TKI Taiwan | Mencari Solusi di Negeri Sendiri | Oriflame
Dan memang kalau kita lihat tentang definisi TKI di situs Wikipedia, maka kita akan menemukan sederet berita tentang beberapa kasus TKI yang mungkin membuat sebagian dari kita merasa sedih, pilu, dan prihatin. 
Apalagi akhir-akhir ini kita mendengar kembali kasus TKI di Arab Saudi yang di hukum mati. Miris banget dengernya. :(
Pada bulan Desember 2014, saya dipertemukan dengan salah seorang TKI lewat bisnis saya, Oriflame. 
Namanya Mbak Mindarti, seorang TKI yang sudah bekerja selama 9 tahun di luar negeri.
Karena saya banyak mendengar berita yang memilukan hati tentang TKI selama ini, jadinya saya kepo berat dong pengen denger ceritanya langsung dari nara sumbernya.
Berikut ini cerita Mbak Mindarti, tentang pengalamannya sebagai TKI, dan kenapa dia pengen banget berhasil di bisnis Oriflame:
 
Perkenalkan nama saya Mindarti. Asal saya dari Cilacap, Jawa Tengah.
Saat ini saya sedang berada di Taiwan. Bukan untuk liburan, tapi untuk kerja mencari nafkah sebagai TKI.
 
Menjadi TKI tentunya bukanlah cita-cita saya. Tapi saat hidup saya di negara sendiri tidak memiliki banyak pilihan, saya harus menjalani apa yang penting buat keluarga saya di kampung, walaupun hal itu tidak saya sukai.

Apalagi kalau bukan keterbatasan ekonomi. Saya mau tidak mau harus rela meninggalkan keluarga tercinta untuk mencari nafkah di negeri orang demi menyambung hidup saya dan keluarga.
 
Manis pahit manis pahit sudah saya lalui. Sebenarnya lebih banyak pahitnya dibanding manisnya, cuma daripada saya makin stress, yang pahit bisa lah dibikin agak manis sedikit, walaupun masih terasa juga pahitnya.
Maka dari itu, saya tidak pernah berhenti mencari jalan keluar untuk merubah hidup saya dan keluarga saya ke arah yang lebih baik. Saya percaya bahwa ini adalah rencana Tuhan yang terbaik buat saya dan keluarga saya.

Kegigihan saya berdoa dan berusaha untuk mencari jalan keluar tersebut akhirnya menemui titik terang, ketika saya melihat ada iklan di Facebook tentang sebuah bisnis yang bisa dikerjakan tanpa harus meninggalkan pekerjaan kita saat ini.
Tentunya, bisnis semacam inilah yang buat saya makin kepengen tahu alias penasaran tingkat dewa. Setelah melihat isi iklan tersebut, akhirnya saya tahu bisnis ini namanya bisnis Oriflame. 
Ternyata bisnis ini bisa dikerjakan sambil menjadi karyawan di kantor, sambil menjadi ibu rumah tangga dan mengurus anak di rumah, sambil menjadi pelajar atau mahasiswa, bisa dikerjakan kapanpun dan dimanapun, tanpa ada batasan waktu dan lokasi. Kerjanya bisa dikerjakan secara online lagi.
 
Entah kenapa, waktu itu saya langsung merasa ini bisnis saya banget, cocok untuk dikerjakan oleh seorang TKI seperti saya. Yang pasti saya ngga perlu meninggalkan pekerjaan saya sebagai TKI.
 
Saya bisa mengerjakan bisnisnya dimana saja dan kapan saja, sehingga tidak perlu mengganggu pekerjaan utama saya. Saya bisa kerjakan bisnisnya saat jam kerja saya sudah selesai, jadi ngga perlu korupsi waktu di pekerjaan saya sebagai TKI.

Sebelum saya ketemu bisnis Oriflame, saya memang selalu berusaha untuk memiliki bisnis. Keterbatasan waktu tidak membuat saya menyerah dan pasrah dengan keadaan. Saya memulai bisnis saya dengan berjualan baju, panci, sprei, dan semua produk yang bisa saya jual. Si Palu Gada (Apa Lu Minta Gua Ada) katanya cocok banget sebagai julukan saya.  :)
 
Saya memang butuh uang, banget malah. Yang terpenting bagi saya adalah bagaimana saya bisa menghasilkan uang sebanyak-banyaknya dan sesegera mungkin, meskipun harus bekerja dengan waktu dan beban kerja yang berkali-kali lipat.

Namun saya tetap ingat untuk menjunjung tinggi cara-cara yang halal dan tidak melanggar hukum. Saya tidak pernah merasa aman dan tenang jika tidak memiliki uang. Terus terang saja, saya bisa merasa tenang dan senang saat memiliki uang.

Kalau ada yang bilang ngga semua hal itu bisa dibeli dengan uang, kesenangan dan kebahagiaan ngga bisa dibeli dengan uang, pasti saya akan bilang “Oya? Yang beneeer?” 
Sekarang coba tanya pada yang bilang bisa bahagia tanpa uang, bagaimana caranya mereka bisa bahagia tanpa uang?
Coba tanyakan juga sama Koes Ploes, bagaimana caranya "Hati Senang Walaupun Tak Punya Uang" seperti di lagu mereka?

Semua kebutuhan di dalam hidup ini butuh uang, ngga ada yang gratis. Kalau kesenangan dan kebahagiaan tidak terkait dengan uang, ngapain banyak orang yang harus berangkat pagi-pagi sekali ke tempat kerja, bela-belain kerja lembur, pulang larut malam, sampai pas weekend juga ada yang kerja.
Ngapain? Ngga mungkin karena memang hobinya mereka seperti itu kan.

Kenapa harus mengumpulkan uang sebanyak-banyaknya dan sesegera mungkin?

Karena saya tidak mau lama-lama menjadi TKI, tidak mau jauh dari keluarga, dan tidak mau lagi menerima perlakuan yang tidak menyenangkan dari majikan. Pengen cepet pulang ke negara sendiri, pengen pulang kampung.
 
Proses saya mau bergabung dan menjalankan bisnis Oriflame cukup lama juga lho. Saya ngga tahu tuh, apa rahasianya Bubu Detty mau ngelayanin setiap pertanyaan saya dan menjawabnya secara detil. Kalau saya, mungkin udah ngga sabaran kali ya. Sepertinya banyak yang perlu saya pelajari dari seorang pebisnis seperti Bubu Detty.  :)

Kenapa proses mau bergabung jadi member Oriflame harus memakan waktu lama?

Karena emang saya banyak nanya dan semuanya detil banget. Tapi jujur ya, karena awalnya saya takut banget terlibat dengan bisnis seperti ini.
Banyak teman-teman saya yang bilang bisnis MLM itu bikin nyesek. Kerjanya pakai target tutup poin. Yang enak uplinenya yang sudah bergabung duluan, yang gabung belakangan sebagai downline tinggal apesnya aja. MLM itu penipuan dan bisa menjerumuskan. Dan masih banyak hal-hal negatif lain yang disampaikan kepada saya oleh teman-teman saya saat itu.
Pas banget deh semua berita negatif itu didengar oleh saya yang seringnya selalu menunda untuk mencoba, jadinya ngga mulai-mulai. Telat melulu!

Tapi ketika saya dijelaskan oleh Bubu Detty, kok ya saya makin penasaran dan yakin kalau bisnis ini emang bisa saya kerjakan dan cocok untuk saya. Saya jadi yakin kalau saya bisa berhasil di bisnis ini.

Waktu itu Bubu Detty menyarankan saya untuk membaca beberapa artikel Tentang Bisnis Oriflame yang ada di blognya Bubu Detty (www.dettyindriana.com), agar saya bisa lebih memahami dan yakin bahwa Bisnis Oriflame bukan Money Game, dan juga Bisnisnya Halal serta Sistem Bisnisnya Adil.

Kalau tentang bisnisnya pakai target tutup poin, saya rasa semua pekerjaan itu selalu punya target yang harus dicapai ya. Kalau bekerja tanpa target itu ya, seperti kata Buya Hamka:
   "Kalau kerja hanya sekedar kerja aja, kerbau di sawah juga kerja."

Setelah saya pelajari dengan jelas, saya makin yakin bahwa tidak semua bisnis MLM itu sama. Ada yang berkedok MLM tapi ternyata Money Game, ada yang memang MLM murni namun sistem bisnisnya ngga memberikan keadilan bagi membernya, serta melanggar kaidah-kaidah keyakinan kita tentang sistem berbisnis yang adil.

Yang bikin saya makin yakin dengan bisnis Oriflame adalah:
Bisnisnya Halal dan Sistem Bisnisnya Adil. Walaupun gabung duluan sebagai upline, tapi kalau kerjanya lebih rajin yang gabung belakangan sebagai downline, maka yang gabung belakangan bisa mendapatkan penghasilan yang lebih besar dari yang sudah gabung duluan.

Bisnisnya MLM murni bukan Money Game. Bisnisnya adalah penjualan langsung yang sudah terdaftar di APLI. Bisnisnya memiliki produk atau barang yang dapat diperjualbelikan dengan harga yang sesuai dengan kualitasnya.

Bisnis Tepat untuk Percepatan Rejeki. Dan tentunya ini adalah salah satu jalan keluar bagi saya untuk berhenti jadi TKI dan pulang kampung.

Menjalankan bisnis Oriflame itu cuma TuPo, Rekrut, Bina.

Tupo (Tutup Point) itu merupakan target penjualan yang harus kita capai setiap bulan. Namanya juga bisnis, pastinya ada yang namanya aktivitas jual beli dong. Karena dalam hal ini peran kita sebagai seorang pebisnis, jadi tugasnya jualan dong pastinya.

Rekrut adalah mengajak orang lain yang punya tujuan yang sama, yaitu untuk merubah hidupnya ke arah yang lebih baik, untuk bergabung dengan kita bersama-sama menjemput impian lewat bisnis ini. Kita hanya perlu mencari orang yang tepat untuk bekerjasama.
Agar orang yang kita rekrut bisa menjalankan bisnisnya dengan benar dan sesuai dengan etika bisnis yang ditetapkan, maka Wajib Membina dan Mengajarkan mereka cara menjalankan bisnis ini sesuai dengan yang diharapkan.

Karena saya emang doyan jualan, jadi berhasil mencapai target tutup point bagi saya bukan masalah besar. Pas banget passion di jualan ketemu bisnis Oriflame yang memiliki aktivitas berjualan juga. Mulai dapat untung dari jualan, banyak mendapat gratisan, dapat bonus bulanan, dan sederet keuntungan-keuntungan lain. Pokoknya keren banget deh bisnis ini.

Mindarti - TKI Taiwan Berbisnis Oriflame
Alhamdulillah..
Mindarti yang sekarang bukan Mindarti yang dulu lagi. Bisnis Oriflame sudah ikut memperbaiki kepribadian saya, sudut pandang saya, sekaligus menambah keahlian saya.

Bisnis ini bukan hanya sekedar mengajari caranya mendapatkan uang, tapi juga mengajarkan bagaimana cara mendapatkan uang dengan semestinya dan tidak melanggar kode etik berbisnis. Mengajarkan bagaimana caranya berinteraksi dan berkomunikasi dengan orang lain, dan mengajarkan bagaimana berjiwa besar dan sabar saat apa yang kita harapkan belum tercapai, dan menjadikannya sebagai pelajaran agar berhasil di kesempatan berikutnya.

Demikianlah sedikit cerita dari saya, seorang TKI yang memiliki mimpi untuk merubah hidup menjadi lebih baik. Sekarang saya sudah masuk bulan kelima menjalankan bisnis Oriflame saya ini, dengan segala keterbatasan saya sebagai seorang TKI. Namun, ternyata semua keterbatasan itu selalu saja memberi sedikit keleluasaan bagi kita, jika memang ada kemauan kuat dari kita untuk menjemput impian kita sendiri.

Saat ini, penghasilan saya dari bisnis ini memang belum bisa menandingi penghasilan saya sebagai TKI, namun saya percaya dalam beberapa bulan ke depan semua akan berubah menjadi lebih baik lagi.

Yang penting, sekarang saya bisa  membuktikan bahwa semua hal negatif yang orang-orang bilang tentang bisnis Oriflame ini tidak benar adanya. Sudah ada bukti nyata yang berupa transferan bonus dari Oriflame ke rekening saya. Dan pastinya, mimpi saya untuk mencari solusi demi mendapatkan penghasilan layak di negara sendiri dan kembali berkumpul dengan keluarga tercinta, sedikit demi sedikit menjadi kenyataan. Saya juga ingin seperti teman-teman saya yang lain di bisnis ini, khususnya di Jaringan Detty Indriana, yang bisa menjemput impiannya dengan bisnis Oriflame.

Terima kasih d’BCN.. Terima kasih Oriflame.

Senior Gold Director Oriflame Indonesia
Whatsapp 08129897914
SMS | Telp 08129897914
Linkedin : http://id.linkedin.com/in/dettyindriana

5 Rahasia Mencari Orang yang Tepat dalam Bisnis

Mencari Orang yang Tepat dalam Bisnis adalah suatu hal yang memiliki tantangan tersendiri. Orang yang Tepat akan membuat bisnis kita semakin tumbuh dan berkembang.

5 Rahasia Mencari Orang yang Tepat dalam Bisnis

Dengan segala keterbatasan yang kita miliki seperti waktu, tenaga, tempat, dan dana, maka penting bagi kita untuk mengetahui bagaimana Rahasia Mencari Orang yang Tepat dalam Bisnis yang sedang kita jalankan, sehingga apa yang kita lakukan dapat juga tepat pada sasaran yang diinginkan.

Ada 5 Rahasia Mencari Orang yang Tepat dalam Bisnis, yaitu:

1.
Mencari tahu Siapa yang akan menjadi Target Prospek kita.
Pengertian prospek dalam dunia bisnis adalah kenalan atau relasi yang akan menjadi pelanggan kita, atau yang akan kita ajak bekerjasama menjalankan bisnis.
 
Ini merupakan tahapan yang paling penting dalam menemukan Orang yang Tepat dalam Bisnis kita. Apakah orang tersebut akan cocok menjadi partner bisnis kita atau lebih cocok menjadi pelanggan kita.

Menentukan target prospek kita, akan sangat membantu dalam proses menemukan orang yang tepat, karena hal ini dapat memastikan kita tidak membuang-buang waktu, dan juga tidak membuang-buang waktu orang lain yang tidak tertarik terhadap produk atau peluang bisnis yang kita tawarkan.

Cara yang paling mudah dalam menentukan target prospek kita adalah dengan memahami apa yang menjadi tujuan pemasaran kita.
Apakah kita ingin fokus kepada masyarakat umum yang tidak tahu bahwa ada produk yang berkualitas hadir di pasaran?
Apakah kita ingin fokus meningkatkan kesadaran orang lain bahwa bisnis yang kita jalankan merupakan bisnis yang menjanjikan yang dapat memberikan percepatan rezeki?
Apakah kita ingin fokus kepada orang-orang yang sudah mengetahui produk kita dan ingin lebih meyakinkan dan meningkatkan loyalitas mereka?
Apakah kita ingin fokus kepada orang-orang yang berada pada segmen industri atau bisnis yang sama, namun masih mencari-cari yang paling cocok dan tepat buat mereka?


2. Menyesuaikan Kalimat dan Gaya Bahasa yang digunakan.
Menggunakan kalimat dan gaya bahasa yang sama kepada seseorang yang baru lulus SMA yang belum memiliki pengalaman kerja, dan kepada seorang pensiunan yang memiliki pengalaman bekerja puluhan tahun, adalah suatu keputusan yang kurang bijaksana.

Berikan usaha lebih dengan membuat penyesuaian gaya bahasa dan gaya bicara menurut orang yang akan kita ajak berkomunikasi, agar apa yang menjadi tujuan kita berkomunikasi dengan mereka tercapai.

Misal kita ingin menawarkan peluang bisnis kepada seseorang yang baru saja lulus SMA dan ingin meneruskan ke bangku kuliah. Hal-hal yang menarik minat mereka biasanya bagaimana mereka bisa mendapatkan uang lebih untuk membeli baju baru yang akan digunakan saat kuliah nanti. Atau bahkan bagaimana mereka bisa memiliki dana untuk meneruskan kuliah karena keadaan ekonomi keluarganya yang tidak memungkinkan.

Dan pada kondisi lain, dimana yang kita ajak berkomunikasi adalah seorang pensiunan atau seorang karyawan yang akan mendekati masa pensiun. Kita tahu kebanyakan dari orang-orang yang berprofesi sebagai karyawan memiliki ketakutan akan tidak memiliki penghasilan saat pensiun nanti.

Maka tentunya kalimat dan gaya bahasa kita juga disesuaikan dengan apa yang menjadi minat mereka, yaitu memberikan solusi atas permasalahan mereka, yang dalam hal ini ketakutan tidak memiliki penghasilan saat masa pensiun nanti.

 
3. Melakukan Follow Up setelah komunikasi pertama.
Follow up atau tindak lanjut sangat penting dilakukan, namun penting juga untuk tidak bersikap menyebalkan.

Kita tahu bahwa usaha kita menemukan orang yang tepat dan usaha kita menyesuaikan gaya bahasa dan gaya bicara saat berkomunikasi tidaklah mudah, maka apa yang sudah kita lakukan sebelumnya hendaknya di tindak lanjuti, agar apa yang sudah dilakukan sebelumnya tidak sia-sia, dan tentunya bisa membuat tujuan tercapai.

Satu hal yang perlu kita ingat bahwa prospek tidak akan pernah menghubungi kita lebih dulu. Dalam kehidupan prospek setelah berkomunikasi dengan kita pertama kali, akan banyak sekali hal yang terjadi yang dapat membuat mereka lupa akan kita dan penawaran kita.

Tugas kita adalah menempatkan kembali penawaran kita ke dalam pikiran prospek, tepatnya menjadikannya prioritas terdepan dalam pikiran prospek saat itu.

Caranya yaitu dengan mengingatkan mereka bahwa kita dan produk atau peluang bisnis yang kita tawarkan masih ada, dan kita masih tertarik untuk bekerjasama dengan mereka. Yang perlu diperhatikan adalah jangan sampai kita terlalu memaksa.

Memaksakan kehendak kepada prospek hanya akan menghasilkan perasaan sebal mereka kepada kita, dan malah akan memberikan hasil yang tidak sesuai dengan tujuan kita.


4. Memanfaatkan Waktu sebaik-baiknya.

Pada saat kita melakukan pertemuan offline, apakah itu pertemuan pertama kali atau sebuah follow up, kita perlu benar-benar merancang dan menjadwalkan seluruh kegiatan kita pada hari tersebut.

Jika kegiatan hari itu hanya untuk pertemuan offline, maka rancanglah bagaimana kita bisa memaksimalkan waktu yang kita miliki untuk melakukan pertemuan offline lainnya dengan prospek-prospek kita yang lain, yang memang membutuhkan pertemuan offline.

Menggunakan waktu secara efisien saat pertemuan offline dengan memanfaatkan waktu tersebut untuk melakukan beberapa pekerjaan sekaligus akan memberi kita percepatan dalam menyelesaikan pekerjaan kita.

Caranya yaitu dengan menjadwalkan pertemuan offline ini dengan prospek-prospek lainnya pada hari dan lokasi yang sama. Atau jika tidak memungkinkan di lokasi yang sama, maka analisa kembali apakah waktu dan lokasi bertemu yang mereka inginkan masih memungkinkan untuk disetujui melihat waktu yang tersedia pada hari itu.


Orang yang Tepat biasanya akan menghargai dan menghormati usaha yang kita lakukan dalam mengundang mereka untuk bertemu. Dan biasanya mereka juga akan mengusahakan agar dapat memenuhi undangan kita untuk bertemu. Hal ini juga menunjukkan bentuk profesionalitas dan kualitas yang ada pada diri seseorang.


5. Mengutamakan Bersikap Sopan dan Ramah.
Banyak dari kita yang hanya fokus terhadap hasil dan target yang harus kita capai, sampai-sampai kita melupakan bahwa kita berinteraksi dengan sesama manusia yang memiliki perasaan.

Jadi penting sekali agar kita tetap bersikap sopan dan ramah kepada prospek, walaupun mungkin pada akhirnya prospek tersebut tidak menerima tawaran kita.

Kebanyakan prospek menyetujui apa yang kita tawarkan bukan karena mereka butuh produknya, atau peluang bisnisnya, namun lebih melihat akan siapa yang menawarkan dan bagaimana cara mereka menawarkannya.


Apakah kita dapat dipercaya dan bukan sebaliknya yang akan menjerumuskan prospek, apakah kita dapat memberi solusi atas masalah atau kebutuhan mereka, apakah kita mendengarkan saat mereka berbicara, dan masih banyak lagi pertanyaan-pertanyaan yang perlu kita tanyakan pada diri sendiri agar kita dapat menjadi prioritas pilihan prospek.

Sikap yang sopan dan ramah tanpa memandang bulu akan membuat propsek memiliki rasa hormat dan simpati kepada kita karena mereka juga merasa dihormati dan dihargai oleh kita.

Jika saat itupun mereka menolak tawaran kita, tidak apa-apa. Karena suatu saat mereka membutuhkan produk atau peluang bisnis yang kita tawarkan, maka bersiaplah kalau kita akan menjadi orang yang pertama yang akan mereka hubungi.

Tidak berhenti sampai disitu, jika ada rekan atau keluarga mereka yang membutuhkan produk atau peluang bisnis yang kita tawarkan, mereka juga tidak segan untuk mereferensikan kita kepada rekan atau keluarganya tersebut.


Sikap yang baik seperti berlaku sopan dan ramah, hanya akan mengundang orang-orang yang baik juga ke dalam kehidupan kita. Dan salah satu kepribadian yang dimiliki oleh Orang yang Tepat adalah memiliki sikap yang baik, menghargai dan menghormati orang lain.


Demikian 5 Rahasia Mencari Orang yang Tepat dalam Bisnis yang dapat saya bagi disini. Mudah-mudahan dapat membantu teman-teman semua dalam melakukan pencarian.

Jika ingin tahu bagaimana kita bisa menjadi pilihan prospek, silahkan cek artikel 2 Cara Membuat Kita Jadi Pilihan Prospek.


Senior Gold Director Oriflame Indonesia
Whatsapp 08129897914
SMS | Telp 08129897914
Linkedin : http://id.linkedin.com/in/dettyindriana

Bisnis Oriflame Sudah Menjerumuskan Istriku (2)

Lanjutan kisah Bisnis Oriflame Sudah Menjerumuskan Istriku…

Bulan kelima juga berhasil dilewati, dan penghasilan istri saya di bisnis Oriflame mencapai nilai sekitar Rp 2 jutaan. Ini tandanya dia sudah siap untuk memulai rencana kami, resign dari kantor dan ikut dengan saya tinggal di luar kota. Tapi… apa mau dikata, nasib ternyata berkata lain.


Saya dan istri hanya bisa berencana, namun tetap Tuhan jugalah yang menentukan hasil akhirnya. Rencana yang sudah kami susun dari jauh-jauh hari untuk kepindahan istri saya buyar seketika saat saya dipanggil oleh boss saya ke ruang rapat.

Bisnis Oriflame Sudah Menjerumuskan Istriku 2
Di ruang rapat tersebut ternyata sudah menunggu boss saya, bossnya boss saya, dan boss HRD. Wuiihhh, boss-boss semua kumpul dalam satu ruangan. 

Saya sudah sempat kaget dan berpikir apa kesalahan yang saya lakukan kok sampai saya dipanggil ke ruang rapat seperti mau disidang begini.

Saya coba ingat-ingat lagi ke belakang, tapi sepertinya semua hasil kerja saya tidak ada masalah. Akhirnya saya duduk dihadapan ketiga boss tersebut, sambil berpikir yang terburuk… PHK (Pemutusan Hubungan Kerja).

Mereka mulai berbicara, sementara saya terus mendengarkan kata demi kata, kalimat demi kalimat, dan akhirnya saya tahu mereka membawa sebuah berita. 

Sebuah berita yang membuyarkan rencana kepindahan istri saya untuk ikut dengan saya tinggal di luar kota, yang sudah kami rencanakan dengan matang dari jauh-jauh hari.

Saat itu saya seakan tidak percaya dengan apa yang saya dengar dari mereka. Ternyata mereka membawa berita baik untuk saya. Saya akan ditugaskan kembali di kantor pusat di Jakarta mulai bulan depan.

Setelah keluar dari ruang rapat, saya tidak sabar untuk memberi tahu istri saya tentang hal ini. Akhirnya dengan keadaan ini kami merubah kembali rencana-rencana hidup kami selanjutnya.


Rencana kepindahan istri saya tentunya dibatalkan, namun kami memiliki rencana baru yaitu berencana memiliki buah hati. Rencana yang merupakan impian kami berdua setelah menikah. Apalagi kedua orang tua kami sudah sangat menginginkan menimang-nimang cucu.

Setelah akhirnya saya pindah kembali ke Jakarta dan bekerja di kantor pusat, tidak berapa lama istri saya mengandung. Dan setelah bulan kelima usia kandungan, tiba-tiba istri saya kembali meminta izin kembali pada saya. Kali ini dia meminta izin untuk resign dari kantor setelah anak kami lahir.


Dia ingin mengasuh sendiri anak kami di rumah. Dia tidak suka anak kami diasuh oleh orang lain seperti menggunakan jasa pengasuh anak, karena mungkin dia banyak mendengar dari teman-teman kantornya kejadian-kejadian yang tidak diinginkan terjadi pada anak-anak yang ditinggal dengan pengasuh anak saat ibunya bekerja di luar rumah.

Saya sangat senang mendengar rencananya untuk mengasuh sendiri anak kami di rumah, namun di sisi lain saya tahu bahwa keluarga kami membutuhkan penghasilan istri saya dari kantor sebagai tambahan atas penghasilan saya untuk menghidupi keluarga kami.


Setelah berdiskusi agak panjang, akhirnya kami menemukan solusi terbaik. Solusinya adalah istri saya akan resign dari kantor saat penghasilannya dari bisnis Oriflame dapat menyamai gajinya sebagai karyawan di kantoran.

Lalu bagaimana jika anak kami lahir namun penghasilan istri saya dari bisnis belum bisa menyamai gaji kantornya? Untuk hal ini kami mengambil keputusan untuk pindah ke rumah orang tua kami, dan meminta bantuan mereka untuk menjaga anak kami saat kami bekerja di kantor. Awalnya kami tidak mau merepotkan orang tua kami, namun hanya ini solusi terbaik yang bisa kami ambil saat itu.

Istri saya tahu benar bahwa dia harus secepatnya memastikan penghasilannya di bisnis Oriflame bisa menyamai gajinya di kantor. Saat itu gajinya sebagai karyawan kantoran sebesar Rp 8 juta. Target yang tentu saja tidak mudah dicapai, namun sangat mungkin untuk dicapai di bisnis ini.

Akhirnya saat anak kami hampir menginjak umur 1 tahun, istri saya berhasil mendapatkan penghasilan dari bisnis Oriflame yang bisa menyamai gajinya sebagai karyawan kantoran.


Saat itu juga dia mengajukan surat resign kepada bossnya, dan berhasil mulai mengasuh anak kami secara full time di rumah 1 bulan kemudian. Mulai saat itu saya lebih tenang dalam bekerja karena mengetahui bahwa anak kami diasuh oleh tangan yang tepat, tangan ibunya sendiri.

Namun kami tidak pindah rumah lagi, karena orang tua kami meminta kami tinggal saja di rumah mereka. Ya sepertinya mereka tidak mau jauh dari cucunya. Setelah berdiskusi dan mempertimbangkan segala hal, akhirnya kami setuju untuk meneruskan tinggal di rumah orang tua kami.

Pertimbangan kami saat itu adalah lebih kepada keinginan untuk menyenangkan orang tua kami dengan dekat dengan cucu mereka. Lagipula tidak ada suatu kendala bagi kami dengan tinggal disana, karena kebetulan istri saya juga bisa belajar cara merawat dan mengasuh anak yang benar dari pengalaman ibunya dulu mengasuhnya. Maklum ini masih anak pertama, dan kami masih belum banyak memiliki pengetahuan bagaimana mengasuh anak yang tergolong masih bayi ini dengan benar.

Jika dilihat dari keseluruhan kisah ini, terlihat bagaimana perlahan-lahan bisnis Oriflame ini sudah menjerumuskan istri saya. Bisnis ini memang sudah menjerumuskan istri saya kepada hal-hal baik di dalam kehidupan keluarga kami. Makin lama dan makin dalam istri saya terjerumus dalam bisnis ini, maka makin banyak impian-impian kami yang bisa kami wujudkan.


Satu persatu rencana dan impian dalam kehidupan kami tercapai. Memang ada rencana yang gagal kami penuhi, namun Tuhan selalu menggantinya dengan rencana yang lebih baik. Contohnya saat kami memiliki rencana untuk tinggal bersama di luar kota, rencana tersebut gagal, namun langsung diganti dengan rencana yang lebih baik, yaitu dengan bertugasnya saya kembali di Jakarta, dan akhirnya bisa kembali berkumpul dengan istri saya.

Bisnis Oriflame juga tidak hanya menjerumuskan istri saya, namun saya pun ikut terjerumus. Kami sekarang sudah terjerumus untuk mulai berani memiliki impian, dari yang tadinya memiliki rencana-rencana hidup yang biasa-biasa saja, sekarang kami mulai berani mengupgrade impian kami menjadi impian yang lebih baik lagi, yang tidak biasa-biasa saja.


Kami mulai terjerumus untuk memiliki impian berlibur keluar negeri, memiliki kendaraan pribadi atas nama sendiri, menyekolahkan anak di sekolah terbaik, dan tentunya impian-impian lain yang berkaitan dengan hubungan seorang manusia dengan Penciptanya seperti bersedekah lebih banyak, berkurban lebih besar, melaksanakan ibadah umroh, menunaikan ibadah haji, dan masih banyak lagi.

Untuk saya seorang yang suka sepakbola, saat itu saya memiliki impian untuk pergi ke Eropa suatu saat nanti dan mengunjungi salah satu stadion sepakbola klub ternama di Eropa. Saat itu saya belum tahu apakah impian saya bisa tercapai atau tidak, karena dengan memikirkan biayanya saja, sebenarnya sudah membuat saya melihat impian saya adalah sesuatu yang tidak mungkin tercapai.


Apalagi melihat status saya yang saat itu hanya sebagai karyawan kantoran yang memiliki gaji yang hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan dasar hidup berumah tangga. Namun ternyata, sekali lagi bisnis Oriflame ini benar-benar menjerumuskan istri saya dan saya sendiri.

Pada awal tahun 2013, Oriflame mengumumkan bahwa salah satu hadiah pencapaian untuk para konsultannya atas target yang dicapai dalam bisnis Oriflame ini di tahun 2013 adalah paket perjalanan berlibur di atas kapal pesiar mewah di Laut Mediterania yang akan diselenggarakan sekitar bulan Agustus-September 2014. 


Tidak hanya itu saja, kapal pesiar ini akan berlabuh di 3 negara Eropa, 6 kota Eropa selama 8 hari berlayar. Pada saat mendengar kata Eropa ini, bulu kuduk saya langsung berdiri, tatapan saya tegang, dan jantung berdebar, seperti tidak percaya akan apa yang saya dengar. Impian saya yang tadinya seperti sangat tidak mungkin untuk diraih, akhirnya seperti terlihat sangat dekat dan memungkinkan untuk diwujudkan.
 
Camp Nou | Barcelona
Alhamdulillah… Pada akhir September 2014 kemarin, saya dan istri akhirnya berhasil untuk mewujudkan mimpi kami berlibur ke luar negeri, berlibur di atas kapal pesiar mewah Liberty of The Seas, mengunjungi negara-negara beserta kota-kota di Eropa.

Dan yang pasti, impian saya akhirnya juga terwujud untuk dapat mengunjungi stadion salah satu klub sepakbola ternama di Eropa.

Teman-teman tahu ngga stadion mana yang saya kunjungi? Hehehe..


Tidak tanggung-tanggung Tuhan memberi rezeki dan jalan bagi saya untuk mewujudkan impian saya. Saat itu saya berhasil mengunjungi Stadion Camp Nou, stadion sepakbola terbesar di Eropa, yang merupakan stadion milik klub sepakbola yang tidak asing lagi bagi kita, yaitu FC. Barcelona, atau yang lebih dikenal dengan El Barca. Dan semua ini adalah hasil terjerumusnya istri saya di bisnis Oriflame.

Ini merupakan bukti bahwa walaupun istri yang menjalankan bisnis, namun suami juga bisa ikut merasakan hasil dari menjalankan bisnis ini. Impian istri tercapai, impian suami tercapai, dan dalam jangka panjang impian keluarga besar juga bisa tercapai. Sudah banyak juga kok pebisnis Oriflame yang sudah berhasil memberangkatkan orang tuanya atau anggota keluarganya yang lain untuk melaksanakan ibadah umroh dan atau menunaikan ibadah haji.

Sekarangpun, bisnis Oriflame ini masih menjerumuskan istri saya dan saya sendiri makin dalam. Selalu ada target-target baru yang ingin kami capai setiap harinya, dan hal ini membuat hidup kami makin berwarna dan tidak pernah ada kata bosan menjalani hidup, karena hidup kami saat ini selalu memiliki tujuan yang jelas dan makin bermakna. Terjerumus di bisnis ini ternyata benar-benar membuat perubahan yang dahsyat dalam kehidupan keluarga kami.

Siapa yang bisa menyangka bahwa bisnis Oriflame ini benar-benar sudah berhasil menjerumuskan istri saya , dan termasuk saya sendiri ke dalam jalan kehidupan yang sesuai dengan impian kami. Satu persatu impian kami terwujud, dan setiap harinya kami mulai berani mengupgrade terus impian kami.


Segala sesuatu yang awalnya kami pikir sangat jauh dan tidak mungkin kami capai, sekarang terasa dekat dan sangat mungkin dicapai. Dan saat ini saya sangat bersyukur kepada Tuhan akan keputusan yang saya buat beberapa tahun lalu dengan memberi izin kepada istri saya untuk bergabung dan menjalankan bisnis Oriflame ini, karena bisnis ini benar-benar menjerumuskan kami ke jalan hidup yang lebih baik.

Tugas kita sebagai manusia hanyalah mencoba. Dan untuk mencoba dibutuhkan keberanian. Hasil yang didapat berhasil atau tidak bukanlah kuasa kita, hanya Tuhan yang memiliki kuasa menentukannya. Namun yang pasti, jika kita tidak pernah memiliki keberanian untuk mencoba, maka sudah pasti kita akan selalu jauh dari keberhasilan.

Demikian kisah Bisnis Oriflame Sudah Menjerumuskan Istriku, yang membuat perubahan yang dahsyat dalam kehidupan kami, dan tentunya membuat impian-impian kami satu persatu tercapai.


Dulu kami tidak pernah berani memiliki impian, namun sekarang kami selalu bersemangat untuk terus memperbaharui impian-impian kami. Coba kalau dulu saya tidak memberi izin istri saya berbisnis Oriflame, sudah pasti saat ini saya akan selalu memiliki ketakutan akan di PHK dan atau ketakutan-ketakutan lain yang berhubungan dengan masalah ekonomi jika saya tidak memiliki pekerjaan dan penghasilan.

Hidup akan lebih mudah jika kita memiliki pilihan bukan?

Rofy Kurnia
Inbox Facebook : https://www.facebook.com/mrofykurnia

Bisnis Oriflame Sudah Menjerumuskan Istriku (1)

Bisnis Oriflame sudah menjerumuskan istriku mungkin merupakan kalimat yang paling tepat yang bisa digunakan untuk menggambarkan apa yang saya rasakan saat ini.


Tujuan HidupKeraguan yang sempat terlintas di dalam pikiran saya beberapa tahun lalu, saat pertama kali mendengar permintaan istri saya agar diberi izin untuk berbisnis ini, akhirnya seiring berjalannya waktu memberikan suatu jawaban. Andai saja dulu saya tidak memberi izin tersebut, mungkin saat ini keadaan keluarga kami tidak akan seperti ini. Keputusan yang beresiko, yang akhirnya mengubah jalan hidup keluarga kami, dan mengubah seluruh rencana hidup yang kami miliki sebelumnya.

Namanya resiko pastinya memiliki dua sisi, resiko buruk dan resiko baik. Resiko buruk biasanya dirasakan saat hasil yang kita terima tidak sesuai dengan harapan kita. Resiko baik adalah sebaliknya, saat hasil yang kita terima sesuai dengan harapan kita, atau setidaknya apa yang kita lakukan selama ini perlahan memperlihatkan hasil yang sesuai dengan harapan kita.

Jadi ceritanya begini…

Semua berawal saat saya ditempatkan oleh kantor saya dulu, untuk bekerja di salah satu pabrik mereka yang berada di luar kota. Penempatan ini adalah penempatan jangka panjang, yang periodenya dalam hitungan tahun. Saat itu juga belum setahun pernikahan kami, dan saya harus rela berpisah dengan istri, yang saat itu juga masih bekerja sebagai karyawan di salah satu perusahaan di Jakarta.

Keputusan ini terpaksa kami ambil karena tentunya berkaitan dengan kebutuhan ekonomi. Saat itu yang kami tahu tentang kehidupan pernikahan adalah biaya hidup yang lebih besar dibanding saat masih sendiri.


Dan kami juga harus menabung untuk persiapan jika anak kami lahir nantinya, yang mana jika saat itu tiba, biaya hidup yang kami butuhkan akan lebih besar lagi dari kehidupan pernikahan yang tadinya hanya berdua dengan istri saja.

Yaaa…  Memang hidup adalah pilihan, dan saat itu kami belum memiliki pilihan lain untuk mencari nafkah. Yang kami tahu adalah kami harus belajar dengan rajin, lulus kuliah dengan nilai memuaskan, dan mencari kerja menjadi karyawan di salah satu perusahaan.


Maklum saja karena di keluarga kedua orang tua kami tidak ada yang memiliki jiwa pengusaha, tidak ada yang menjadi pebisnis, apalagi memiliki yang namanya bisnis keluarga. Dari latar belakang keluarga yang seperti inilah yang membuat kami hanya terfokus ke salah satu dari 10 pintu rezeki, yaitu bekerja di kantoran menjadi karyawan.

Namun apa mau dikata, ternyata istri saya tidak nyaman dengan hubungan jarak jauh seperti ini. Saat itu dia mengatakan pada saya bahwa dia mau ikut dengan saya tinggal di luar kota. Namun dia akan pindah saat dia mendapatkan pekerjaan juga di kota dimana saya ditempatkan waktu itu. Bulan demi bulan berlalu, namun tidak ada panggilan dari perusahaan-perusahaan yang dia lamar pada saat itu.


Karena keinginan sudah kuat, maka akhirnya dia mencari alternatif lain selain menjadi karyawan. Saat itu istri saya hanya ingin mendapatkan penghasilan Rp 2 juta saja perbulan, hanya untuk kebutuhan wanitanya saja. Maklum istri saya ini suka sekali mengoleksi tas dan sepatu yang bermerek, yang pastinya memiliki harga diatas Rp 1  jutaan.

Selain keinginan mendapatkan penghasilan sekitar 2 juta per bulan, istri saya juga ingin bisnis yang akan dijalankannya itu bisa dikerjakan dimana saja, tanpa terikat oleh lokasi. Dan kalau bisa memiliki waktu yang fleksibel, sehingga bisa dikerjakan kapan saja, tanpa mengganggu kewajibannya untuk mengurus pekerjaan rumah tangga.


Tetap FokusAlhamdulillah, saat itu istri saya melihat sebuah iklan di Facebook yang menawarkan peluang bisnis seperti yang dia inginkan, bisnis yang bisa dikerjakan dimana saja dan kapan saja, tidak terikat oleh lokasi dan waktu. Dan untuk mendapatkan  penghasilan 2 juta per bulan dari bisnis ini sangat memungkinkan.
Namun sayangnya bisnis ini merupakan bisnis Multi Level Marketing (MLM), yang mana dia sangat mengetahui bahwa saya merupakan orang yang paling antipati dengan yang namanya bisnis MLM saat itu.

Kenapa saya bisa antipati dengan bisnis MLM?


Rasa antipati ini awalnya berasal dari beberapa orang rekan saya yang sempat berusaha menawarkan saya bisnis MLM, bukan karena saya mencari-cari alasan untuk menunda memulai berbisnis.

Ada yang pada saat menawarkan bisnisnya kepada saya, rekan saya ini bicara tanpa henti alias nyerocos terus, dengan semangat menjelaskan segala hal tentang bisnisnya sampai detil sekali, sampai-sampai saya tidak diberi kesempatan bicara.

Saat saya memiliki kesempatan bicara, dia cenderung tidak mau mendengar apa yang saya katakan. Dia terus saja berbicara dan berpendapat seperti menegaskan bahwa hanya dia yang perlu di dengar dan dia yang paling benar.

Ada lagi rekan saya yang lain, menawarkan bisnisnya dengan biaya gabung sebagai member dengan nilai nominal yang besar, ditambah harga produknya lumayan tinggi (sekitar 300 ribu – 1 jutaan), dan semua biaya itu akan diminta di awal saat gabung.


Melihat produknya yang merupakan produk kesehatan dari negeri tirai bambu, dengan harga selangit, dan produk tersebut bukan merupakan produk kebutuhan sehari-hari, saat itu saya merasa kalau saya akan kesulitan memasarkannya dan mendapatkan penjualan dari produk jenis ini. Saat saya menyatakan menolak untuk ikut bergabung dengan bisnisnya, rekan saya itu berubah sikap, menjadi seperti memusuhi saya.

Saat bertemu atau papasan di jalan sudah tidak mau menyapa. Jika disapa, hanya merespon seadanya tanpa mau menatap wajah yang menyapa. Nah kedua pengalaman tidak menyenangkan bagi saya inilah yang membuat saya antipati dengan MLM, disamping tidak sedikit juga informasi yang saya dapatkan tentang banyaknya penipuan dan money game yang berkedok MLM.

Akhirnya tibalah saatnya istri saya meminta izin kepada saya untuk bergabung menjadi anggota di bisnis Oriflame.


Saat itu yang dilakukannya adalah menelepon saya dan menjelaskan tentang bisnisnya, mengirimkan saya seluruh hal tentang bisnis Oriflame ini, dari mulai sistem bisnisnya, produknya, dan keuntungan apa saja yang bisa didapat dari menjalankan bisnis ini lewat email.

Saya gunakan kesempatan ini untuk mempelajari sistem bisnisnya, menganalisa penerimaan pasar terhadap produknya, dan mencari tahu segalanya tentang sejarah dan perkembangan perusahaannya, produknya, dan bisnisnya.

Keesokan harinya istri saya telepon lagi saat saya mau rapat di kantor. Dia menanyakan perihal permintaan izin tersebut. Respon saya saat itu adalah meminta istri mempertimbangkannya sekali lagi untuk menjalankan bisnis Oriflame ini.


Saat memberikan respon ini sebenarnya saya sudah menyetujui istri saya bergabung di bisnis ini, karena setelah saya membaca semua hal tentang bisnis ini dari email yang dikirimkan istri saya, apalagi setelah mempelajari sistem bisnisnya dan setelah mendapatkan referensi dan rujukan bahwa sistem bisnisnya halal serta sudah terdaftar di APLI (Asosiasi Penjualan Langsung Indonesia), saya jadi lebih yakin dengan keputusan saya memberi izin. Respon saya ini sebenarnya hanya untuk menguji kesungguhan istri saya dalam menjalankan bisnis Oriflame ini.

Saat mendapat respon seperti itu, istri saya langsung menjelaskan panjang lebar segala hal yang sudah saya pelajari dari email yang dikirimnya. Dan bilang kalau dia serius dan yakin ingin menjalankan bisnis ini agar bisa hidup bareng sama saya di luar kota. Setelah mendapat jawaban itu lalu saya bilang, ya sudah silahkan gabung di bisnis itu.


Lalu saya tanya sama istri saya berapa juta yang perlu saya transfer untuk bergabung. Saat itu dia bilang tidak perlu transfer apapun, izin dari saya sudah lebih dari cukup. Karena saya sudah mau mulai rapat di kantor, akhirnya perbincangan tidak saya lanjutkan lebih jauh.

Namun selama meeting saya kepikiran, dapat uang darimana istri saya untuk biaya gabungnya. Karena yang saya tahu dari beberapa rekan yang pernah menawarkan bisnis MLM pada saya, mereka selalu menjelaskan kalau saat mau bergabung kita diminta untuk melakukan pembelian produk dengan harga ratusan ribu sampai jutaan.

Setelah rapat, karena penasaran saya tanya berapa biaya gabungnya sama istri, dan istri saya menjawab biaya gabungnya hanya RP 39.900 (saat ini menjadi Rp 49.900).

Sudah pernah lihat gambar kartun Ali Oncom dalam posisi nyungsep di surat kabar Pos Kota? Nah itu mungkin ilustrasi yang tepat menggambarkan kagetnya saya pas dengar biaya gabungnya hanya sebesar itu.


Jadi yang membuat saya berani membuat keputusan beresiko tersebut adalah karena melihat potensi resiko buruk yang kecil pada sistem bisnis ini, dilihat dari biaya gabungnya yang tidak lebih besar dengan biaya jajan dan belanja kita yang dikeluarkan saat akhir pekan di mall, dan para pelaku bisnis tidak diperbolehkan menjadi stockist sehingga tidak ada kemungkinan mengalami kerugian karena menumpuk barang dan akhirnya tidak terjual.

Kembali pada izin yang saya berikan pada istri, ada hal yang tidak tertulis dan tidak terucap kepada istri saya, yaitu tentang masa percobaan 3 bulan seperti karyawan baru di kantoran.


Jadi jika selama 3 bulan setelah menjalankan bisnis Oriflame ini terlihat bisnisnya tidak ada perkembangan dan malah membuat uang banyak keluar untuk sesuatu yang tidak jelas, maka saya akan meminta istri saya untuk berhenti menjalankan bisnis ini dan tidak akan pernah ada lagi cerita minta izin untuk bergabung dalam bisnis seperti ini seumur hidup.
Saya bukan tipe suami yang diktator kepada istri, yang main larang saja tanpa ada alasan yang jelas, karena saya melihat suami istri itu perlu kerjasama dan diskusi dalam mengambil keputusan yang terbaik dalam menjalani kehidupan rumah tangga. Saya juga bukan tipe suami yang kolot yang takut jika istri lebih sukses atau penghasilan istri lebih besar daripada penghasilan suami. Saya menyadari bahwa rencana kehidupan kami membutuhkan biaya yang cukup besar sehingga saya masih minta bantuan istri dalam hal membantu penghasilan saya dari menjadi karyawan di kantoran, yang mana sebenarnya di luar kewajibannya sebagai istri yang seharusnya hanya mengurus rumah tangga dan tinggal di rumah. Jadi sangat tidak adil rasanya jika saya main larang saja, padahal saya masih membutuhkan bantuannya di luar kewajibannya sebagai ibu rumah tangga. Apalagi jika saya melarang tanpa alasan, tapi tetap mau penghasilan dari bisnisnya, kebangetan banget kalau model suami yang begini sih.

Success Plan Oriflame
Bulan pertama sudah dilewati dan istri saya mendapatkan penghasilan dari bisnisnya sebesar Rp 30 ribu.

Jumlah penghasilan yang saat itu membuat saya tertawa, bahkan jumlah itu lebih kecil dari biaya pendaftaran untuk bergabung di bisnis ini. 

Namun melihat teriakan gembiranya waktu pertama kali mendapatkan penghasilan dari bisnis yang baru dijalankannya, membuat saya tidak tega untuk mematahkan semangatnya dengan ketawa habis-habisan di depannya, apalagi sampai ngeledekin.

Lalu bulan kedua berhasil dilewati, dan kali ini penghasilannya naik berkali-kali lipat menjadi sekitar Rp 200 ribu. Sampai-sampai pada saat saya diberi tahu lewat email, istri saya mengirimkan foto bukti transfer dari Oriflame ke rekening tabungannya. Kali ini saya langsung balas emailnya dengan ucapan selamat yang agak “lebay”, tujuannya biar istri saya makin semangat mengerjakan bisnisnya. Dan pada akhir bulan ketiga, istri saya sudah berhasil mendapatkan penghasilan hampir mencapai jumlah Rp 1 juta.

Bagi saya ini sesuatu yang mengesankan, karena kembali istri saya membuktikan bahwa memang dia sangat serius dan fokus menjalankan bisnis ini, dan memang terlihat dari penghasilannya yang naik berkali-kali lipat. 

Akhirnya setelah melihat grafik penghasilan yang terus menanjak, dan melihat istri saya senang mengerjakannya, maka mulai dari hari itu saya beri persetujuan penuh istri saya untuk menjalankan bisnis Oriflame ini sambil tetap bekerja di kantor sebagai karyawan. Dan saat itu juga saya beri tahu istri saya tentang masa percobaan 3 bulan itu.

Respon istri saya waktu itu kaget, dan akhirnya dia ngomel-ngomel sambil nyubit. Wadaw..Sakiiit..

Bulan kelima juga berhasil dilewati, dan penghasilan istri saya di bisnis Oriflame akhirnya mencapai nilai sekitar Rp 2 jutaan. Tapi… apa mau dikata, nasib ternyata berkata lain.


Saya dan istri hanya bisa berencana, namun tetap Tuhan jugalah yang menentukan hasil akhirnya. Rencana yang sudah kami susun dari jauh-jauh hari buyar seketika saat…   bersambung ke Bisnis Oriflame Sudah Menjerumuskan Istriku (2).


Rofy Kurnia
Inbox Facebook : https://www.facebook.com/mrofykurnia

Bisnis seperti apa yang ingin kamu jalankan?

Yuk Ikutan!

Katalog Terbaru

FB Fan Page Saya

Profil Linkedin Saya

Yuk, Jemput Impian Kita!

Terima kasih atas kunjungannya, Teman

Arsip